Kamis, 07 Oktober 2010

Dua yang Terpenting: Semangat dan Kebebasan


Semangat ..

Ini yang terhilang dari kelompok penari balet di sebuah sekolah ternama. Mereka terus berlatih, melentukkan otot-otot, namun tarian mereka tanpa ruh, tanpa jiwa, tanpa semangat, tanpa passion. Pelatih mereka terlalu strict, menuntut kesempurnaan, kepatuhan mutlak, disiplin tingkat tinggi, tetapi takut memberi mereka kebebasan. Pemberian kebebasan dianggap sebagai ancaman melemahnya disiplin di antara para penari balet itu.

Kehadiran kelompok penari street dance yang berjiwa bebas, suka mengeksplorasi gerakan-gerakan baru diharapkan membawa semangat di dalam diri mereka. Sebab apalah artinya sebuah tarian tanpa semangat? Sama sekali tidak menarik, tidak menyentuh hati, kosong.

Kerapkali didikan yang terlalu menekankan disiplin tingkat tinggi, terlalu banyak aturan, ancaman hukuman bagi yang melanggarnya hanya menciptakan manusia-manusia yang kaku, tidak bisa menikmati karyanya. Pemberian kebebasan dianggap sebagai ancaman, hilangnya status quo, terjadinya pelanggaran yang lebih banyak lagi, hilangnya disiplin dalam diri seseorang. Kebebasan sedemikian dirindukan, namun sekaligus ditakuti.

Siapa yang tidak ingin menghirup udara bebas, terbang melayang bak burung di udara, bebas mengembangkan daya imajinasinya?

Namun agaknya kita sudah terbiasa terkurung dalam sangkar. Kita lebih memilih di dalam sangkar daripada terbang bebas keluar. Di dalam sangkar lebih nyaman, terjamin, tidak usah repot-repot cari makan sendiri, makanan buatan pabrik dan air minum cukup tersedia. Di luar sangkar terlalu beresiko, tidak ada jaminan, bisa-bisa kelaparan, kehausan, kehujanan, kepanasan, ditembak, kena perangkap, dikuliti, disate, dipanggang. Kita sudah terlalu nyaman di dalam sangkar, sehingga kemampuan kita untuk terbang tinggi pun menjadi hilang.

Untunglah kehadiran kelompok penari street dance membawa angin segar, semangat baru mulai merasuki kelompok penari balet. Mereka tidak lagi menari tanpa ruh, tanpa jiwa, tanpa emosi. Aroma kebebasan itu mulai terasa. Mereka tidak lagi menari dengan cara yang sama. Tarian mereka baru, terlihat kuat, bersemangat, hidup!

Bagaimana pun, demi menghasilkan sebuah koreografi yang indah, mau tidak mau kelompok penari street dance juga mesti belajar balet, sementara kelompok penari balet belajar street dance. Pembelajaran di tahap awal memang selalu tidak mudah. Berkali-kali kelompok street dance merasa bosan mempelajari gerakan-gerakan balet yang selalu sama, jinjit, mengepak-ngepakkan tangan, melatih kelenturan, jinjit lagi. Sementara kelompok penari balet harus berjuang keras untuk dapat menciptakan gerakan-gerakan baru di luar tradisi, aturan, kebiasaan sebagaimana street dance tercipta pada awalnya.

Akhirnya mereka berhasil setelah sekian lama berlatih, mengulang, berkomunikasi, kerja sama, saling belajar. Yang penting semangat baru itu sudah merasuki kelompok penari balet. Semangat, inilah yang terpenting.

Tanpa semangat, sebuah tarian hanyalah berupa gerakan-gerakan tanpa ruh, tanpa ekspresi, tanpa jiwa, tanpa kekuatan untuk membuat mata 'tak berkedip tanda terpesona. Tanpa semangat, sebuah permainan musik hanyalah terkesan seperti mesin. Tanpa semangat, sebuah pidato hanya membuang-buang waktu audience yang mendengarnya, menimbulkan rasa bosan, kantuk, tidak mendapat apa-apa. Satu lagi yang penting: jangan takut untuk mengembangkan imajinasi. Jangan takut untuk bebas.

Kebebasan memang mengandung resiko, rasa tidak nyaman, tetapi kebebasan juga mengandung peluang untuk terbang tinggi, menciptakan gagasan-gagasan baru, memelihara semangat, menjadikan hidup lebih hidup.

Jangan takut untuk menjadi manusia-manusia yang bebas. Teruslah memelihara semangat dan hati yang bebas untuk mencintai apa pun yang kita kerjakan.


Bekasi, 1 September 2010
10.11 pm
Markus Hadinata

Senin, 29 Maret 2010

Tragedi Pingsan dan Seorang Bapak Berkepala Plontos

Seketika perempuan (kira-kira berusia 27 th) di sebelah kanan itu pingsan. Rupanya ia tidak tahan harus berdiri terlalu lama, berdesak-desakan, ditambah lagi udara yang pengap di tengah-tengah kerumunan ratusan orang yang mengantri bus way, kira-kira hampir satu jam! Pemandangan ini terjadi kemarin malam, tepatnya di halte Harmoni sekitar pukul 19.15 WIB. Laki-laki bertubuh kekar di sampingnya pun segera memeganginya seraya memanggil petugas jaga, “Pak, ada yang pingsan.” Sambil dibantu petugas jaga, perempuan yang pingsan itu dibawa ke luar dari antrian menuju ke belakang. Sempat kudengar celotehan dari sesama pengantri, “Wah, nanti kalau sudah sadar terus harus antri lagi, dan tiba-tiba pingsan lagi, gak pulang-pulang dong?”

Aku sendiri merasa cukup kemeng (pegal) di bahuku karena menggendong ransel besar berisi perlengkapan Bina Kader esok. Tepat di depanku berdiri seorang Bapak (kira-kira berusia 52 th) yang rambutnya mulai putih, berminyak dan menipis, plontos di bagian tengah ke belakang. Segera terlihat kulit kepalanya yang licin berkeringat di bagian yang plontos itu. Berulang kali kulihat ia melihat jam tangannya. Pikirku, “Biar dilihat seribu kali juga waktu akan terus berjalan Pak, lagipula antrian masih panjang.” Dari raut wajahnya aku bisa membaca, Bapak tadi adalah orang yang terlampau serius menjalani hidup, “miskin” humor, menggunakan otaknya teramat keras demi mencari nafkah di tengah-tengah kota Jakarta yang apa-apa serba mahal, ditambah lagi dengan iklim persaingan tingkat tinggi. Yang bisa survive (bertahan) adalah mereka yang pandai, punya skill tertentu, dan punya modal, entah modal buat naik bus way supaya bisa pergi-pulang dari rumah menuju tempat kerja, modal keterampilan komunikasi interpersonal, modal percaya diri, modal sepatu dan pakaian yang rapi, modal untuk beli minyak rambut biar kelihatan oke. Bagi yang memutuskan untuk berdagang, minimal punya modal gerobak, tenda, serta keterampilan masak, goreng-menggoreng, merebus, meracik bumbu-bumbu supaya menghasilkan makanan yang bisa dijual dan disukai orang-orang yang berlalu-lalang di jalan.

Kembali ke persoalan Bapak berkepala plontos tadi. Sepertinya sudah merupakan nasib dari sononya bahwa laki-laki ditetapkan sebagai pencari nafkah. Ketika laki-laki dewasa pergi dari rumah orang tuanya, memutuskan untuk berumah tangga, mengambil seorang istri, maka dirinya juga harus siap untuk menjalani nasibnya sebagai pencari nafkah anggota keluarga. Apalagi kalau dirinya memutuskan untuk mencari nafkah di kota besar seperti di Jakarta dengan kebutuhan hidup berbiaya tinggi.

Betapa tidak, beli nasi goreng di warung tenda pinggir jalan saja harus satu paket dengan minumnya, alias minumnya ya harus beli lagi. Biasanya minuman kemasan di dalam botol, entah botolnya terbuat dari plastik, kaleng atau beling. Zaman sekarang gak ada yang gratisan, semuanya mesti bayar pake uang. Kalau dibilang uang bukanlah segalanya emang iya, tapi nyatanya hidup ini butuh uang! Sementara bagi pihak perempuan biasanya tidak ambil pusing memeras otak guna berpikir bagaimana caranya mencari penghasilan tambahan guna menghidupi kebutuhan keluarga. Sebab urusan mencari nafkah sudah diserahkan kepada suaminya, terutama semenjak peristiwa kelahiran anak pertamanya. Maka amat jarang kita temui perempuan berusia 52 tahunan yang berkepala plontos dari bagian tengah ke belakang, sekalipun dirinya hidup di kota besar, sebut saja misalnya Jakarta.


Jakarta, 30 Maret 2010
11.08 am
Markus Hadinata

Senin, 22 Maret 2010

Balada Tikus Mati, Kucing Hidup dan MANUSIA

Sepanjang perjalanan pulang dari Blok H setelah menikmati mie rebus yang super lezat dengan air minum mineral beli di Carrefour (biar hemat dikit ceritanya). Tepatnya di tikungan pertigaan pasar Aries, aku melihat seekor tikus besar tewas terbaring mengenaskan. Kedua tangan dan kakinya terlentang tiada berdaya, mulutnya terbuka sehingga gigi-giginya yang putih kelihatan. Aku tidak tahu ke manakah gerangan ruhnya saat ini.

Entah apa sebab tikus itu tewas. Kalau terlindas ban mobil atau motor sepertinya tidak mungkin, karena tubuhnya masih utuh. Andai terlindas ban mobil pastilah tubuhnya gepeng dengan usus keluar berhamburan di jalan. Kalau keracunan makanan.., mungkin iya, tapi mungkin juga tidak. Dugaanku adalah tikus ini terkena gangguan jantung (sok tau mode on). Hendak menyeberang jalan, tiba-tiba diklakson motor, kaget lalu mati dengan mengeluarkan bunyi ciiit.. ciiit. ciiiittt. (imajinasi tingkat tinggi mode on).

Seketika itu aku mencoba berempati terhadap tikus yang tewas barusan. Aku mencoba merenungkan ketika ia terlahir dari ibunya bersama dengan saudari-saudara kandungnya yang lahir pada waktu bersamaan. Ibunya memberi makan sampai ia sendiri mandiri. Lalu ia harus berjuang sendiri untuk bertahan hidup di jalanan, di lorong selokan, di lorong-lorong pasar mengais-ngais sisa-sisa makanan yang jatuh di jalan pasar, di tempat sampah. Semua aktivitas mencari makan dilakukannya di malam hari untuk bertahan hidup. Siang hari terlalu riskan baginya untuk mencari makanan karena takut dikejar, ditangkap, dipukul, dibunuh manusia. Siang hari dipergunakannya untuk tidur di lubang got, mengumpulkan energi untuk aktivitas malam hari. Meski aku juga pernah lihat tikus yang nekat keluar di siang bolong. Mungkin karena tidak tahan lapar.

Berapa kira-kira usia tikus mati sebesar itu yang kulihat barusan? Enam bulan? Sepuluh bulan? Satu tahun? Tikus yang malang..

Lalu dalam perjalanan berikut aku berjumpa dengan seekor kucing hidup. Kucing adalah hewan yang hebat menurutku. Mengapa? Coba saja, ia bisa bertahan hidup layaknya tikus, hanya dari sampah-sampah sisa makanan yang dibuang manusia. Aku bicara soal kucing jalanan, bukan kucing rumahan. Karena kucing rumahan tentu tidak perlu hidup seperti layaknya kucing jalanan. Kucing rumahan tinggal mengeoooong, lalu diberi makan pada jam-jam tertentu. Kucing rumahan tidak usah kuatir menderita kelaparan, kudisan, banyak kutu layaknya kucing jalanan. Hanya satu yang menyamakan keduanya, yaitu sama-sama rakus bila melihat tikus hidup. Dikejarnya tikus yang dilihatnya, ditangkap, dipermainkan, akhirnya digigit sampai menciciiitt bunyinya, lalu dimakan bila perutnya sedang lapar. Kalau masih kenyang, paling tikus mati ditinggalkan begitu saja di tempat tersembunyi sampai manusia mencium bau bangkai tak sedap, ya tikus mati itu tadi.

Baik kucing hidup maupun tikus mati sama-sama tak berakal. Akalnya semata-mata digunakan untuk mencari makan, bagaimana bertahan hidup, mengeooong (kalau kucing), atau menciciiiit (kalau tikus), mencari makan, tidur, mencari makan, lalu tidur lagi tiada lelah. Sampai harinya tiba, maut menjemput mereka berdua. Tapi aku jarang melihat bangkai kucing, lebih sering melihat bangkai tikus.

Silahkan pembaca yang budiman menafsirkan sendiri cerita ini dengan bebas. Sebab bukankah hidup yang memiliki arti itu adalah hidup yang bebas? Bebas memilih bagaimana kita menjalani hidup, menentukan cara untuk mencari makan, bebas berimajinasi, pokoknya bebas, asal saja kebebasan kita tidak melanggar kebebasan orang lain.

Manusia tentu bukan tikus, juga bukan kucing.. Manusia diberi akal budi untuk menjadi manusiawi dan bukannya hewani yang taunya cuma mencari makan bila merasa lapar.

Meski kucing dan tikus hidup berdampingan dengan manusia, namun mereka beda. Bedanya kalau kucing berani tampil terang-terangan di hadapan manusia, sementara tikus tidak berani terang-terangan tampil di hadapan manusia. Bisa-bisa ditangkap, dibunuh, lalu dibuang ke got atau dikubur bila tikus sengaja menampakkan dirinya kepada manusia.

Aku bicara soal tikus hitam, bukan tikus putih, bukan pula hamster. Tikus putih dan hamster tentu beda lagi jalan hidupnya. Mereka dipelihara, disayang, malah diberi makan oleh manusia (meski sama-sama berjenis tikus).

Intinya manusia tidak suka kepada tikus hitam, tikus budug, tikus bau, tikus kali, kucing budug, kucing kurus, kucing botak, pokoknya semua yang jelek dan bau. Manusia lebih suka kucing angora, kucing bersih, hamster, malah kalau bisa disemprot minyak wangi biar wangi.


Jakarta, 22 Maret 2010
9.21 pm
Markus Hadinata

Senin, 01 Maret 2010

Indonesia: Bukan Sekedar Tempat Lahir Beta




Indonesia, apa yang Anda pikirkan ketika mendengar kata "Indonesia"? Negeri kaya akan sumber daya alam, penduduknya ramah tamah, adil dan makmur, tempat lahir beta. Dari sederet jargon ini, mungkin satu-satunya yang benar 100% adalah yang terakhir. Ketiga di awal lebih merupakan ketegangan antara realitas dan ilusi yang dibangun semasa pemerintahan Orde Baru dengan maksud memelihara status quo para petinggi negeri.

Ramah hanya bagi yang berduit. Ada duit ada layanan dan keramahan! Tidak ramah bagi yang tidak berduit. Tidak ada duit, tidak ada layanan dan keramahan. Alam kita memang kaya, tapi sebagian besar kekayaannya sudah diangkut ke negeri orang. Rakyat tetap ada di dalam lingkaran kemiskinan, kebodohan, kesenjangan antara pemilik modal dan rakyat jelata masih cukup tinggi. Adil dan makmur? Adil dan makmur bagi yang kebagian "kue" yang bernama harta, sumber daya alam, kekuasaan. Sementara ketidakadilan dan penderitaan tetap dialami bagi mereka yang tidak kebagian "kue".

Mei 1998 adalah awal perubahan sistem pemerintahan negeri kita dengan didudukinya gedung MPR/DPR oleh mahasiswa dari berbagai kalangan Universitas di Indonesia. Soeharto pun lengser, mengawali jaman reformasi. Apakah perubahan telah terjadi? Ya, semua orang kini bebas mengekspresikan pendapatnya. Bahkan ada yang sampai keblabasan dengan mengabaikan etika serta kesantunan berpendapat. Tetapi apakah perubahan tadi diikuti oleh keadilan dan kemakmuran yang semakin dirasakan oleh masyarakat secara keseluruhan? Nampaknya tidak. Ternyata kebebasan saja tidak cukup, kekebasan masih harus diikuti dengan tanggung jawab bersama seluruh rakyat dalam membangun negeri.

Tulisan ini adalah sebuah bentuk keprihatinan penulis melihat dalam waktu beberapa bulan ini masyarakat kita terus menerus disuguhi berita di berbagai media massa sehubungan dengan bail out (dana talangan) bank Century. Pembentukan Pansus yang sedianya untuk menyelidiki, menindak tegas siapa saja yang terlibat dalam kasus penyimpangan dana talangan bank Century, memberi keadilan pada pihak-pihak yang dirugikan (dalam hal ini rakyat), malah saling adu argumentasi, saling memaki, adu kekuatan. Betapa ironis, anggota Pansus yang menghabiskan biaya sampai hitungan milyar tetapi kerjanya hanya berdebat, berkelahi, menambah ricuh. Kalau petinju profesional jelas berkelahi dan dibayar, itupun ada aturannya! Tidak boleh sembarang memukul. Lah, kalau yang ini??

Seorang kawan mengomentari di FB, "Apakah Anda bangga dengan wakil rakyat yang waktu sidang melempar palu ke pimpinan sidang? ("...itulah Indonesia...")" Kalimat pertama bagi penulis adalah pertanyaan retorik yang tidak memerlukan jawaban. Jelas masyarakat mana yang bangga dipimpin oleh orang yang keputusan dan tindakannya hanya berasal dari emosi pribadinya (mengabaikan rasionalitas)? Kalimat dalam tanda kutip penulis kurang setuju, karena Indonesia berarti mencakup masyarakat secara keseluruhan. Sementara penulis meyakini bahwa tidak semua rakyat Indonesia bertingkah laku seperti layaknya anggota Pansus tadi! Meski harus diakui kita seharusnya merasa malu bila melihat contoh negara-negara lain yang memiliki kesantunan luar biasa, misalnya Korea Selatan atau Cina. Dari sejarahnya, Cina adalah sebuah negara dimana sebagian besar rakyatnya masih menganut ajaran Confusius yang menjunjung tinggi moral / etika dalam hubungan dengan sesama maupun alam. Filosofi Confusius ini benar-benar mendarang daging di dalam diri orang-orang Cina. Orang merasa malu bila tidak hidup sesuai dengan ajaran moral / etika di tengah-tengah lingkungan masyarakatnya.

Sekarang mari kita melihat negeri kita sendiri, Indonesia. Dari segi falsafah / ideologi negara, kita memiliki Pancasila. Pertanyaannya, "Mengapa Pancasila seperti kehilangan rohnya?" Penulis teringat semasa SD dulu setiap hari Senin pagi diwajibkan mengikuti upacara bendera mengenakan seragam merah putih dengan topi dan dasi. Setiap kali upacara bendera pula, kami mengikrarkan "Pancasila": (1) Ketuhanan Yang Maha Esa. (2) Kemanusiaan yang adil dan beradab. (3) Persatuan Indonesia. (4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyarawatan / perwakilan. (5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kelima sila di dalam Pancasila begitu indah terdengar, ada keharmonisan, kemakmuran, keadilan, kesantunan di sana. Tapi mengapa segala yang indah ini seolah-olah hilang lenyap begitu saja? Apakah karena Pancasila hanya dibuat oleh segelintir orang pada waktu masa awal-awal kemerdekaan Indonesia? Hanya sebagai salah satu syarat untuk dapat ditetapkan sebagai sebuah negara yang merdeka?

Harus ada landasan filosofis, moral, etika, dan spiritual yang mestinya dijunjung tinggi serta mendarah daging dalam diri segenap rakyatnya, baik dari kalangan ekonomi kuat maupun ekonomi lemah, warna kulit, suku, bahasa daerah, status sosial, tingkat pendidikan, bila Indonesia ingin memiliki martabat dan dihormati di mata negara-negara lain.

Sudah saatnya yang terujar dari mulut kita bukan nada pesimis tanpa harapan, "...itulah Indonesia..." (dengan segala carut marutnya). Sebab bagaimana mungkin kita mengharapkan negara lain menghargai negara kita bila kita sendiri ternyata masih bersikap pesimis dan cenderung memandang negatif negeri kita sendiri? Minimal dimulai dari diri kita sendiri. Caranya? Tunjukkanlah profesionalisme kita di dalam studi maupun pekerjaan kita. Apapun bidang yang kita geluti memiliki sumbangsih (peranan) sebagai bentuk pengabdian pada keluarga, masyarakat dan negeri.


Jakarta, 2 Maret 2010
2.56 pm
Markus Hadinata

Minggu, 24 Januari 2010

Kebenaran yang Membebaskan

"Kebenaran adalah sesuatu yang kita lihat, sentuh, dan alami. Kebenaran bukan sesuatu yang kita ciptakan, melainkan sesuatu yang dengan rendah hati kita terima dan kita sambut; sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri." [1]

Di jaman sekarang manusia kerap kali mengalami kebisingan hati. Media massa, suara kendaraan, kekuatiran, kecemasan, kebimbangan, amarah, ketakutan akan ketidakpastian hidup, semua itu mengusir keheningan dari hati kita yang terdalam. Keheningan menjadi sesuatu yang sukar dialami dan dirasakan oleh manusia jaman sekarang. Padahal di dalam batin yang hening manusia akan menemukan kebenaran yang membebaskan dirinya dari segala kekacauan, keterpecahan, dan ilusi yang membelenggu dirinya.

Kebenaran akan membebaskan manusia dari ilusi. Ilusi bahwa manusia adalah sempurna, hebat, tidak memiliki kekurangan. Ilusi juga berarti merasa aman di dalam pengendalian orang lain, konsumerisme akibat pengaruh media massa, merasa tidak perlu berubah.

Untuk dapat berjumpa dengan kebenaran, manusia harus senantiasa terbuka, mau mendengarkan, menerima bantuan dari orang-orang yang menunjukkan kerapuhan diri kita sendiri sehingga kita dengan rendah hati mau berubah.

Manusia tidak dapat menguasai kebenaran, menguncinya di dalam hati dan tubuhnya. Kebenaran bebas berkelana ke manapun ia inginkan.

"AKU ADALAH AKU" adalah kebenaran dan terang dunia; dan mereka yang mengikuti "AKU ADALAH AKU" juga berada dalam terang dan hidup dalam kebenaran. Mereka juga dapat berkata, "Aku adalah aku", "Aku bebas karena aku telah menyadari bahwa aku dicintai oleh Allah, dengan segala kerapuhan dan kefanaan diriku, dan dengan semua yang indah dan agung juga. Aku mempunyai perutusan bersama dengan yang lain untuk menjadi tanda perdamaian dan kasih." [2]

Dalam salah satu surat dari Westerbork, Etty Hillesum menceritakan, pada suatu hari ia melihat ratusan orang Yahudi masuk ke dalam kereta api yang akan membawa mereka ke kamar gas di Auschwitz. Mereka menyanyikan mazmur. Lalu ia memandang wajah-wajah kejam dan beku tentara-tentara Nazi: mana dari kedua kelompok ini yang bebas, bebas menjadi diri mereka sendiri?


Footnote:
[1] Jean Vanier, Tenggelam ke Dalam Misteri Yesus: Menghayati dan Mendalami Injil Yohanes, Yogyakarta: Kanisius, 2009, p. 218
[2] Ibid., p. 217


Jakarta, 24 Januari 2010
1.16 pm
Markus Hadinata

Kamis, 31 Desember 2009

Bercermin Diri: Sebuah Refleksi Tahun Baru


Mengapa tiap malam tahun baru hampir bisa dipastikan terdengar bunyi terompet dan petasan? Pertanyaan ini mengawali perenunganku di tahun baru 2010.

Dunia yang kita tinggali ini penuh dengan bunyi-bunyian. Pada waktu malam hari terdengar suara jangkrik bernyanyi dengan riangnya. Bunyi gemericik air kali mengalir di depan rumahku. Di kejauhan terdengar desingan roda-roda kereta api yang menyentuh rel dengan bunyi klaksonnya yang khas. Salah seorang tetanggaku terdengar mengucapkan ucapan selamat tahun baru.

Jika melihat sejarah perkembangan kehidupan manusia di bumi ini, manusia agaknya menyukai bunyi-bunyian. Manusia menciptakan berbagai jenis alat musik, lagu-lagu dan tari-tarian untuk mengisi kesunyian selain untuk menyalurkan bakat serta ekspresi diri tentunya. Bisa dibayangkan betapa sunyi senyap dunia ini tanpa bunyi-bunyian!

Sikap yang beragam pun ditunjukkan orang-orang dalam rangka menyambut tahun baru. Beberapa orang memilih berkumpul bersama keluarga tercinta sambil makan-makan di luar rumah (jajan), beberapa lagi memilih kumpul bersama teman-teman sambil pesta kecil-kecilan, beberapa umat Kristiani menyambut tahun baru dengan pergi mengikuti kebaktian malam tahun baru di gereja, beberapa orang lebih memilih untuk tidak pergi kemana-mana alias diam di kamar sambil berefleksi, tapi ada juga yang tidak mau ambil pusing alias tidur! :)

Aku sendiri termasuk tipe orang yang memilih untuk berdiam diri di kamar sambil berupaya merenungkan kehidupan yang telah kujalani di tahun 2009 lalu, serta berupaya memahami harapan-harapanku di tahun baru ini.

Sepanjang tahun 2009 aku sungguh merasakan berbagai peristiwa, pengalaman suka duka kehidupan yang membentuk aku menjadi semakin baik, bijaksana, serta lebih dewasa dalam menyikapi berbagai situasi kehidupan. Mulai dari kepulangan stage di GKI Kebonjati Bandung pada awal bulan Januari 2009, perjuangan mengerjakan skripsi selama satu semester (Januari s.d. Mei 2009), lulus ujian skripsi pada bulan Mei 2009, Bina Kader selama satu minggu pada minggu akhir bulan September 2009, dan satu semester yang masih harus kutempuh sehubungan dengan matakuliah Teologi Komunikasi yang belum kuambil.

Dan sekarang, tanpa terasa sudah hampir dua minggu lamanya aku berada di Cirebon! Hari Minggu besok aku sudah harus kembali lagi ke Jogja mengingat hari Senin, 4 Januari 2010 kegiatan kursus musik gereja di Puskat sudah dimulai kembali.

Rasanya belum ingin meninggalkan rumah, masih ingin seminggu lagi bersama dengan kedua orang tuaku. Namun akhirnya 'ku memutuskan untuk kembali ke Jogja hari Minggu besok karena tidak ingin tertinggal materi kursus, selain itu ada satu tugas dari Puskat yang harus dikumpulkan paling lambat hari Senin depan. Hal lainnya adalah mengurus wisudaku yang akan dilaksanakan pada tanggal 20 Februari 2010 mendatang.

Jika mau dihitung, kira-kira 1 minggu lagi aku akan tinggal di kota Jogja dengan segala nuansa yang ada di dalamnya. Berbagai peristiwa yang memperluas cakrawala berpikirku terbentuk di kota Jogja. Selain melalui kegiatan perkuliahan, pergaulan dengan teman-teman dan beberapa komunitas yang 'ku ikuti turut mewarnai hidupku.

Semula tidak terbayangkan bahwa diriku akan kuliah di luar kota. Semuanya berawal dari sepucuk surat yang dikirim ke rumahku oleh BBP (Badan Bina Pendeta) Sinode GKI Jabar yang berisi tentang pengumuman kelulusan hasil tes ujian masuk sekolah teologi. Berangkat dari sinilah aku merasakan hidupku mulai banyak mengalami perubahan, terutama dalam cara berpikir, bersikap serta berkomunikasi dengan orang lain setelah selama 5 tahun kuliah dan menjalani kehidupan di kota Jogja.

Di tahun yang baru ini aku sendiri tidak begitu berharap terlalu banyak, karena aku menyadari sepenuhnya bahwa sebuah harapan tidak akan menjadi kenyataan tanpa pemikiran, sikap / perilaku, serta tekad yang cukup kuat untuk mewujudkannya.

Satu hal yang pasti adalah bahwa kehidupan terus berlanjut, tinggal bagaimana aku menjalaninya sedemikian rupa dan sebaik mungkin. Suka duka kehidupan pasti datang dan pergi silih berganti, orang-orang datang dan pergi meninggalkan jejak di hati kita, dan kita tidak lagi menjadi pribadi yang sama.


Cirebon, 1 Januari 2010
00.01 am
Markus Hadinata

Jumat, 18 Desember 2009

Dicari: Seorang Profesional

“Mas Markus, kalo besok Minggu bisa mengiringi di ibadah pukul 8 pagi?”, suara di ujung telpon itu meminta tanggapan dariku. Hari itu adalah Jumat, berarti sisa 2 hari untuk berlatih! “Baiklah, besok Minggu saya bisa”, aku menyanggupi. “Ok, nanti di sms lagu-lagunya, latihan nanti malam pukul 18.30.”

Waktu itu menunjukkan pukul 2 siang. Jam 3 sore pun berlalu, jam 4 sore, jam 5 sore, tidak ada sms masuk yang berisi lagu-lagu yang janjinya akan dikirim lewat sms. Waktu terus berlalu sampai jam menunjukkan pukul 18.00. Akhirnya tanpa persiapan, aku menuju ke gereja untuk latihan.

Sampailah di gereja setelah kukayuh sepedaku dengan semangat ’45 mengingat ini baru pertama kalinya aku ditugasi mengiringi nyanyian kebaktian. Sesampainya di gereja, rupanya ada kelompok koor yang sedang berlatih di dalam ruang, tempat biasanya dilaksanakan ibadah. Kutunggu saja di luar, sampai seorang ibu keluar mengambil selebaran informasi gereja di depan meja.

Daripada menunggu terlalu lama aku bertanya saja kepadanya, “Ibu, kalo latihan untuk ibadah Minggu hari ini jam 18.30?” Tahukah apa jawab ibu itu? Jawab ibu itu, “Kalo ibadah hari Sabtu jam 5 sore, kalo hari Minggu jam 8 pagi dan jam 5 sore.” Doong doiiing duung dhuerrr, gak nyambung! Aku pun terpaksa menegaskan kembali pertanyaanku, mungkin saja pertanyaanku yang kurang bisa dipahami ibu itu, “Tadi siang saya mendapat telpon dari gereja, katanya hari ini pukul 18.30 latihan untuk ibadah Minggu.” “Oooooo, kalau begitu Mas ketemu sama Bu Mary aja di dalam. Sebentar saya beritahukan Bu Mary. Sebelumnya maaf, Mas namanya siapa?” “Markus”, jawabku singkat. Lalu ibu itu pergi ke dalam memberitahukan kedatanganku kepada Bu Mary.

Sesaat kemudian ibu itu keluar, “Mas Markus disuruh masuk sama Bu Mary di dalam.” Aku pun akhirnya masuk melihat Bu Mary yang tersenyum menyapaku meski sedang melatih paduan suara ibu-ibu. Setelah satu lagu selesai, ia menghampiriku dan menyodorkanku selebaran tata ibadah untuk hari Minggu beserta daftar lagu-lagu yang akan dilatih.

“Mohon tunggu sebentar ya Mas Markus, sedang latihan paduan suara. Sebentar lagi selesai.” Jam 18.30 berlalu, akhirnya pukul 18.45 baru mulai latihan lagu-lagu untuk ibadah Minggu. “Silahkan Mas Markus,” ibu Mary mempersilahkanku untuk berlatih.

Alamak! Masih salah-salah rupanya aku memainkan piano sampai ada kesan ibu Mary meragukan kemampuanku bermain piano. Ia bertanya, “Mas Markus tau kan lagu-lagunya? Ada kesulitan?” “Lagu-lagunya sih tau Bu, tapi belum saya latih berhubung ibu sendiri baru memberikan daftar lagunya sekarang. Ini juga baru pertama kalinya saya diminta untuk mengiringi piano.” Ibu Mary terkejut mendengar pernyataanku, “Lah, bukannya Mas Markus sudah sering mengiringi di Duta Wacana?” Salah pengertian rupanya ibu Mary ini, dan rupanya salah pengertian ini bermula dari info yang diterima dari staff kantor gereja! Aku sendiri memang bulan sebelumnya mengajukan diri untuk menjadi pengiring nyanyian jemaat (pianis) melalui kantor gereja. Aku hanya meninggalkan informasi nomor telpon seluler berikut nama kampus Duta Wacana jika mau menghubungiku. Tapi sama sekali aku tidak menyebutkan bahwa aku sudah sering menjadi pengiring nyanyian ibadah di kampus Duta Wacana!

Rupanya latihan paduan suara masih akan dilanjutkan oleh paduan suara gabungan menggunakan ruangan yang sama, masih Bu Mary yang melatih. Akhirnya latihan untuk ibadah Minggu ditunda! Kebetulan di sana ada seorang keyboardis yang sedang bertugas mengiringi latihan paduan suara. Seorang perempuan kira-kira hampir seusiaku. Dialah yang membantuku mencarikan akord-akord dari lagu-lagu yang baru saja kuperoleh dari Bu Mary. Rupanya dia terbiasa bermain transpos sehingga menyarankanku juga bermain menggunakan transpos pada keyboard. Alasannya, karena kalau main di tangga nada C lebih mudah, tidak perlu menyentuh tuts berwarna hitam.

Tadinya aku berlatih menggunakan piano akustik yang tidak ada fasilitas transposnya karena guru pianoku punya prinsip bahwa tiap muridnya harus bisa main lagu di kunci dasar mana pun tanpa fasilitas transpos! Karena bermain transpos menurutnya membentuk mentalitas gampangan, tidak mau repot-repot, instan. Tapi apa boleh buat, karena keadaan mendesak berhubung belum latihan sebelumnya, maka aku akhirnya menggunakan transpos pada keyboard. Selain itu, demi menghormati rekan yang membantuku mencarikan akord meski sebenarnya aku bisa mencarinya sendiri berbekal teori yang diajarkan guru pianoku mengenai harmonisasi akord.

Keesokan pagi harinya (hari Sabtu) tiba-tiba aku mendapat sms dari Bu Mary kalau aku tidak jadi mengiringi nyanyian ibadah besok Minggu. Inilah yang paling membuatku kesal. Padahal lagu-lagunya sudah dilatih meskipun belum sempurna. Dalam benakku berkata, “Mungkin pikir Bu Mary aku belum pengiring nyanyian ibadah profesional sehingga dikuatirkan akan mengacaukan suasana ibadah.” Aku membalas sms nya, “Ok, hanya saja lain kali kalau memberi tau jangan mendadak supaya bisa saya latih lagu-lagunya terlebih dahulu. Trims.” Kurang dari 2 menit Bu Mary membalas, “Maaf ya Mas Markus, soalnya kemarin kami juga kesulitan mencari organis karena tiba-tiba organis yang sudah dijadwal mengabarkan tidak bisa mengiringi. Kami sudah coba mencari organis yang lain yang biasa mengiringi di gereja tapi semua tidak bisa.” Ketika sms itu dikirim kepadaku, aku tau pasti bahwa pagi itu atau mungkin malam sebelumnya ia sudah mendapat organis selain diriku yang masih belum profesional ini!

Satu hal yang sebenarnya hendak kusampaikan melalui tulisan kali ini adalah bahwa seringkali gereja ingin yang enaknya saja, tapi enggan menerima yang tidak enak.

Kalau gereja membutuhkan seorang pendeta, inginnya pendeta yang sudah siap pakai, matang, profesional, kotbahnya mantap, pelawatannya bagus, rajin (semua hal yang indah dan positif). Sementara kalau gereja menginginkan seorang pengiring nyanyian ibadah, ya inginnya juga yang sudah profesional, sudah terbiasa mengiringi nyanyian ibadah, begitu diberi lagu-lagu langsung bisa memainkannya dengan sempurna! Tapi di sisi lain gereja enggan untuk repot-repot melakukan upaya pembinaan, kaderisasi, regenerasi yang menguras banyak tenaga, anggaran, waktu, perasaan. Mau yang enak tapi enggan menyentuh yang tidak enak. Mau sisi yang positif tapi enggan mengatasi bersama-sama sisi yang negatif. Padahal di dunia ini tidak ada orang yang benar-benar sempurna, tidak punya sisi negatif atau kekurangan selain sisi positif, sekalipun ia adalah seorang rohaniwan (pendeta, bikhu, alim ulama, kiai, guru spiritual, penasehat rohani). Sikap yang tepat adalah berupaya mengembangkan sisi positif dan meminimalisir sisi negatif.

Hal serupa menjadi pengalaman salah seorang pendeta ketika hendak dipanggil dan ditahbis. Pendeta itu berkata kepada majelis, “Yang mau dilihat pendeta, nama, atau pendeta nama?” Andaikan saja seorang yang hendak ditahbis menjadi pendeta itu bernama Andre, yang diingini apakah “Pdt.” nya saja, “Andre”, atau “Pdt. Andre”? Maksudnya ketika jemaat hanya melihat jabatan “Pdt.” saja, maka seringkali harapannya terlalu tinggi! Sementara kalau menyebut “Nama” saja juga keliru karena dengan demikian mengandaikan siapa pun bisa memiliki jabatan sebagai pendeta terlepas dari pengetahuan, keterampilan, komitmen, serta proses yang seharusnya dijalani oleh seseorang yang merasa terpanggil menjadi pendeta. Sikap yang lebih realistis adalah jika jemaat menerima calon pendeta sepenuhnya. Maksudnya selain menerima segala kelebihan, tapi juga mau menerima kekurangan calon pendeta tersebut. Kelebihan berarti untuk dikembangkan bersama, sebaliknya kekurangan berarti untuk diatasi dan diminimalisir bersama.

Tidak ada seorang menjadi profesional tanpa melalui tahapan-tahapan (proses menjadi) secara terus-menerus. Tidak ada bayi yang terlahir langsung menjadi penyanyi terkenal, atlet profesional, pengkotbah ulung, pengusaha sukses, melainkan ada banyak faktor yang turut membentuknya menjadi seorang pribadi, misalnya faktor pendidikan dalam keluarga, pergaulan dengan teman sebaya, sekolah, perguruan tinggi, komunitas iman, masyarakat.

Bagi yang sudah menjadi orang tua pastilah benar-benar merasakan betapa lelah dan menguras banyak energi dalam membesarkan dan mendidik seorang anak, tetapi itu semua toh dijalani dengan senang hati karena rasa cinta dan harapan yang besar bagi si anak sendiri. Kiranya demikian juga dengan gereja. Mau tenaga profesional? Ya harus mau memberi kesempatan kepada generasi muda serta mendampingi, membina, memfasilitasi, misalnya dengan menyediakan seorang pendamping profesional yang dekat dengan kaum muda. Memang untuk itu semua perlu banyak energi, dana, perasaan yang dikorbankan. Tapi semua energi, dana, perasaan yang telah dikorbankan tidak akan sia-sia ketika akhirnya generasi muda yang diberi kesempatan, dibina, didampingi tadi akhirnya siap untuk terjun ke dalam pelayanan sepenuhnya.

Menjadi anak-anak panah yang siap dilesatkan ke mana pun juga.


Jogjakarta, 18 Desember 2009
10.33 am
Markus Hadinata